17-08-2014



17-08-2014
Untuk pertama kalinya saya mengikuti upacara 17 Agustus tidak dihalaman balaikota Semarang. Sejak menjadi petugas bendera disana tahun 2004 saya tidak pernah absen upacara di halaman balaikota Semarang. Akhirnya kebiasan itu terhenti di tahun 2014. Tanggal 17 Agustus 2014 saya sedang tidak ada di Semarang, kebetulan program Sail Raja Ampat melintasi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di tengah laut Banda. Maka ikutlah saya sebagai peserta upacara diatas Kapal KRI Surabaya 591, ya kami seluruh peserta Sail Raja Ampat dari unsur Kemenpora dan Pramuka mengikuti upacara diatas geladak Ende KRI SBY 591 dipimpin langsung oleh Komandan KRI.
Bayangkan kebiasaan yang sudah sepuluh tahun rutin saya laksanakan tiap tahun akan berakhir. Ada kejanggalan dan ada tantangan baru, keduanya bersamaan memenuhi sanubari. Sebagai seorang Purna Paskibaraka, hari itu adalah suatu hari yang sangat special bagi saya. Sedikit mengenang masa-masa pelatihan sebagai capas,(Calon Paskibraka) kemudian aktif di Organisasi, menjadi pengurus kota, kemudian dipercaya menjadi bagian dari tim pelatih sungguh perjalanan yang tidak singkat. Bahkan dari organisasi Purna Paskibraka Indonesia kota Semarang inilah saya mempunyai kesempatan mengembangkan diri di organisasi Kapal Pemuda Nusantara. Awal informasi kegiatan Sail datang dari Dra. Siswaningsih yang waktu itu beliaulah yang mengurusi pengibaran bendera di Balaikota. Beliau menawari saya untuk ikut seleksi Kapal Pemuda Nusantara, kenapa saya? Ya karena saya aktif sebagai pengurus harian Purna Paskibraka Kota Semarang. Dari keaktifan berorganisasi didaerah ini menuntun saya ke organisasi lain yaitu Kapal Pemuda Nusantara. Tanpa berkiprah di kota mana mungkin saya ada di tiga Sail berbeda, mana bisa saya menjadi pendamping sail dan kemudian dipercaya menjadi kordinator Sail. Semua dimulai dari langkah pertama, langkah kecil yang menentukan seribu langkah kedepan.
Keajaiban 17-08
            Pastilah teman-teman ini sudah tau kesaktian tanggal itu, tanggal dimana Negara ini mendeklarasikan kemerdekaannya. Ada banyak rangkain cerita panjang bersama tanggal itu. Disini akan saya ceritakan keajaiban yang menimpa saya berkaitan dengan tanggal itu. Seperti diceritakan sebelumnya bahwa saya tidak dapat menghadiri upacara di halaman Balaikota Semarang dan harus ikut upacara dalam rangkaian Sail Raja Ampat. Waktu itu kapal berlayar menuju Kota Sorong, tepat tanggal 17  Agustus kapal berada di tengah Laut Banda. Laut banda terkenal akan ombak yang tidak pernah tenang sepanjang tahun, memang hal itu terbukti. Sejak kapal meninggalkan pelabuhan Soekarno-Hatta Makasar, sudah banyak peserta pelayaran yang mabuk laut akibat kuatnya ombak yang menghantam kapal. Namun upacara tetap di atas geladak paling atas harus tetap berjalan. Merah putih harus tetap berkibar di tiang utama kapal. Maka segala persiapan upacara diatas laut Banda pun dimulai. Pemasangan umbul-umbul merah putih diatas kapal, pemilihan dan pelatihan petugas bendera, gladi kotor dan gladi bersih upacarapun digelar.
            Tibalah hari itu, minggu pagi tanggal 17 Agustus 2014 hari yang ditunggu-tunggu, upacara pertama saya diatas Kapal Perang. Kapal sedikit menurunkan lajunya agar goncangan karena ombak bisa dikurangi, petugas pengibaran sudah siap di daerah persiapan, peserta upacara berbaris rapi, seluruh pendamping dan panitia Sail pun berbaris rapi hari itu. Namun kapal masih bergoyang, apalagi digeladak paling atas, goncangan paling terasa diatas sini. Terlihat beberapa peserta mulai tak kuat menahan kuda-kuda mereka, bayangkan berdiri menjadi peserta upacara dengan kapal yang terus bergoyang bukan hal mudah. Pasang kuda-kuda yang kuat agar tidak mau terhuyun kesana kemari kena ombak. Saya pun berinisiatif meninggalkan barisan panitia dan pendamping dan memilih berdiri dibelakang peserta, siaga saja siapa tahu ada peserta saya yang tidak kuat. Dari tempat saya berdiri sekarang, tiang utama kapal lurus berada jauh didepan saya. Akhirnya upacara dimulai, moment paling mendebarkan bagi para petugas pembawa bendera pastinya. Mereka akan menjadi center point dari upacara ini. Tetap dengan kapal yang bergoyang-goyang mereka harus berjuang mengibarkan bendera merah putih, ya memang belum seberapa dibanding perjuangan para pahlawan pendahulu kita dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Petugas pun meninggalkan daerah persiapan menuju depan tiang utama kapal. Penghormatan kepada bendera merah putih dilaksanakan, sang dwi warna siap bertahta di Laut Banda. Lagu kebangsaan Indonesia Raya keras dikumandangkan, mengalahkan kerasnya suara deburan ombak yang menhantam lambung kapal. Goyangan kapal pun tak dihiraukan lagi, semua mata menatap sang dwi warna menaiki tahtanya diiringi Lagu Indonesia Raya.
            Belum sampai pada puncak tahtanya, angin bertiup sangat kencang. Bahkan karena kencangnya topi yang dipakai peserta sampai harus ditahan dengan tangan supaya tidak terbang. Tali bendera menegang menahan kuatnya tiupan angin pagi itu. Sang dwi warna masih belum sampai pada puncaknya, tampaknya akan sulit melawan kekuatan alam yang besar ini. Benar saja setelah Lagu Kebangsaan selesai, bendera merah putih belum sampai pada ujung tiang, padahal tiang itu tidak sebarapa tinggi, kuatnya angin Laut Banda akhirnya memutus tali dari bendera. Beruntung bendera merah putih tidak ikut terbang bersama angin kencang itu, dia lebih memilih berpelukan pada tali lain di dekat tiang utama. Suasana menjadi hening waktu itu, sampai aba-aba tegak grak dari pemimpin upacara memecah keheningan itu. Sang angin tetap berhembus kencang dan upacara tetap dilanjutkan dengan pembacaan naskah pidato dari Kepala Staf Angkatan Laut Republik Indonesia yang dibacakan dengan gagahnya oleh Komandan Kapal.
            Bagaimana dengan bendera tadi? Tenang, bendera tadi tetap sampai pada singgasananya dengan bantuan seorang anak buah kapal yang naik keatas tiang utama dan meneruskan perjuangan pasukan pengibar tadi. Nah dimana kisah ajaibnya coba? Jangan-jangan judulnya sengaja dibikin bombastis cetar membahana demi menarik minat pembaca? Haha jangan berburuk sangka dulu. Apakah kisah tadi kurang ajaib, angin yang selalu membuat bendera berkibar setiap akan bendera itu perlahan naik ke singgasananya? Disetiap upacara peringatan HUT kemerdekaan RI saya melihat angin itu selalu datang, membuat bendera itu semakin gagah menaiki tiangnya.
            Tenang pembaca yang budiman, ada keajaiban yang terpampang nyata dalam kisah saya ini. Tuhan memang kasih baik sama beta toh! Sebelum berangkat berlayar ikut Sail Raja Ampat 2014 saya sempatkan mengunjungi pelatihan Paskibraka Kota Semarang dan sempat mengisi materi tentang arti pemimpin pada mereka capaska kota Semarang 2014. Ohya materi itu saya dapat dari Bapak Agus Komarudin, dan itu sangat menginspirasi loh. Dilantai dua gedung Disospora kota Semarang, saya sampaikan materi itu sekaligus titip pesan pada capaska 2014 untuk berbuat yang terbaik saat nanti penugasan 17 Agustus 2014. Karena tahun ini tidak ikut upacara di halaman Balaikota saya sedih juga tapi sekaligus senang karena akan upacara dilaut Banda seperti cerita diatas tadi. Memang Tuhan punya rencanaNya sendiri, setelah upacara HUT Kemerdekaan RI di Laut Banda sukses, kapal meneruskan pelayaran menuju kota Sorong Papua Barat. Saat berlayar ditengah laut tentu tidak ada sinyal televisi atau handphone, karena jarak yang jauh dari pulau-pulau terdekat. Makanya sinyal jarang singgah ke kapal. Setibanya didekat pelabuhan kota Sorong, keajaiban mulai muncul. Diawali dengan sinyal on sinyal on, begitu suara yang terdengar didalam kapal bersahut-sahutan. Sontak banyak peserta yang keluar kapal sekedar mencari sinyal dan memberi kabar pada orang-orang terkasih. Saya sendiri sedang makan siang waktu itu. Tidak seheboh peserta yang berlarian keluar karena sinyal on, saya teruskan makan didalam lounge room perwira di geladak F, disana ada televisi besar yang menyala memberikan informasi tentang dunia luar. Dari televisi itu saya melihat berita siang dari stasiun televisi swasta nasional yang memang menjadi channel berita. Alangkah terkejutnya saya ketika sinyal televisi membaik dan melihat berita di Metro TV, eh maaf kesebut channelnya. Beritanya tentang upacara HUT Kemerdekaan RI di berbagai daerah, dan yang terpampang dihadapan saya waktu itu adalah gambar upacara di halaman Balaikota Semarang. Mata saya melotot tajam tak percaya menatap layar kotak besar itu, jangan-jangan saya berhalusinasi disiang hari. Tapi benar itu pengibaran di Balaikota Semarang, saya hafal betul lapangan itu, letak mimbarnya, bentuk tiangnya, formasi barisan peserta upacara dan tenda-tenda undangan. Melihat adek-adek saya tugas, saat bendera direntangkan, saat dwiwarna itu naik, saat adik-adik petugas kembali ke daerah akhir, semuanya diperlihatkan kepada saya. Hampir air mata menetes waktu itu, haru, senang dan bersyukur. Betapa baiknya sang Kuasa Alam pikirku waktu itu, nikmat Mu sungguh luar biasa. DiperlihatkanNya suasana upacara di Semarang, walaupun tahun ini tidak menyaksikan langsung, cukuplah tayangan Metro TV tadi menjadi obat.
Keajaiban belum berhenti disitu, tangan Tuhan kembali bekerja di acara puncak Sail Raja Ampat 2014. Di tepi pantai Waisai Torang Cinta itu saya bertemu dengan pelatih saya tatkala saya sedang menjadi capaska 2004 dulu. Kak Dewanto, ada di Tenda yang sama dengan saya. Kak Dewanto bekerja sebagai pewarta berita kantor berita Antara, dia berada disana untuk meliput kegiatan Sail. Waw kebetulan sekali, ditengah banyak orang diacara puncak, dia masih bisa melihat saya. Sudah bertahun-tahun tidak berjumpa dan Allah pertemukan kami jauh dari rumah. Moment yang langka pikirku. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi 100 Hari

Highlight Weding at Resinda Hotel Karawag

Cari KPN ya?