Batam 180
Batam 180
Kenapa Batam 180? Seolah ingin menunjukan
perbedaan, perbedaan yang 180 derajat antara Batam dan Natuna. Wajar mengingat kedekatannya
dengan Singapura bahkan disana ada pemerintah otorita Batam yang memiliki
otoritas tersendiri mengatur Batam. Mobil-mobil berkapasitas mesin besar
ex-Singapura tentunya berlalulalang disepanjang aspal. Bagai langit dan bumi,
setelah diajak melihat warga Sabang Bawang Natuna dengan segala keterbatasannya
kami ngemall di Batam. Ohh 180 derajat sudah. Nagoya, pusat shopping jadi
tempat pesiar ala-ala turis kami lihat-lihat itu isi mall. Di mall inilah saya
berkesempatan reuni kecil dengan karib saya di sekolah dasar dulu yang sejak
kami berdua lulus SD tidak pernah berjumpa lagi. SMP tiga tahun, SMA tiga
tahun, kuliah empat tahun tak pernah sekalipun kami bertatap muka. R Harry
Prasojo namanya, bagaimana bisa sampai bertemu? Karena link system yang kita
bangun sejak dulu berjalan cieee link system hehehe… istilah yang saya dapat
selama sebulan bekerja dengan pak Yus Dansatgas. Bertemulah sahabat kecil itu
di gerai pizza yang terkenal berinisial HUT itu. 180 derajat pula penampakan
Indung, ohya dulu panggilan kecil R Harry Prasojo adalah Indung. Semasa SD dulu
gempal sekali dia, kini jadi cowok metro seksual yang rajin nge-gym. Berotot
sudah. Heehe
Homestay yang homestay
Berkat ikut program kemenpora bisa bertemu
teman lama di Batam, berkat ikut program pula bisa merasakan tinggal dirumah
orang tua angkat. Pulau panjang namanya, untuk sampai kesana perlu naik perahu
dari kamp pengungsian Vietnam yang ada dipulau Batam. Dipulau itulah KPN
mengadakan homestay dirumah penduduk yang berada dipesisir pantai. Dimana laut
menjadi halaman belakang mereka, benar-benar halaman belakang dimana proses MCK
berlangsung. Pengalaman mandi outdoor ala
resort-resort mewah tepi pantai pun kami alami, tidak hanya itu. Belajar bikin
krupuk ikan, menjahit jala yang rusak, berperahu menangkap ikan dilaut. Sungguh
homestay yang homestay!
Apalagi listrik dipulau itu hanya on selama
lima jam setiap hari, mulai pukul 18.00 wib sampai 23.00 saja. Pembangkit
listrik tenaga diesel yang uang solarnya dikumpulkan iuran dari setiap kepala
keluarga. Tapi sayang homestay terlalu singkat, jadi kenikmatan kami melahap
gurihnya ikan, kerang, cumi-cumi dan aneka sambal segar itu hanya berlangsung
singkat hemm nyam-nyam. Mau bangun apa dalam waktu dua hari satu malam disana,
Cuma bersih-bersih desa dan pantai yang kami lakukan. Ohya pantai disana banyak
sampah, bukan sampah organik dari tanaman sekitar pantai, tapi sampah plastik
aneka rupa. Eitss tunggu dulu bukan berarti penduduk pulau Panjang yang tidak
menjaga kebersihan pulaunya, mereka justru masyarakat yang masih menjaga
berbagai kearifan local untuk menjaga kelestarian pulaunya. Lantas darimana
sampah-sampah itu berasal? Ada yang tau? Sampah tersebut berasal dari laut yang
ikut terbawa ombak sampai dipantai indah pulau Panjang. Dilaut ada sampah? Tau
kan sumbernya dari mana? Iya dari kebiasaan buruk membuang sampah disungai.
Bukan sungai dari pulau mereka, melainkan sampah-sampah kiriman penduduk Batam
yang hanyut disungai sampai ke laut. Kemudian ombak menyapu sampah tersebut ke
pesisir pulau Panjang. Yacch kenyataan ini memang pahit, mereka tidak makan
buahnya, tapi kulit dan bijinya mereka terima. Makanya himbauan untuk tidak
membuang sampah disungai harus diturutiya.
Pernahkah ada yang bertanya mengapa nama
program ini bernama Kapal Pemuda Nusantara bukan Kapal Pemuda Indonesia? Jauh
sebelum nama Indonesia di populerkan oleh Belanda melalui istilah
Hindia-Belanda, nama nusantara telah lebih dulu berkumandang. Lewat kapal
dilautan lah perjuangan bangsa besar ini dimulai. Arus perdagangan, pendidikan
dan budaya menyebar lewat jalan laut. Kerajaan maritim besar macam Sriwijaya
dan Majapahit bukanlah sekedar cerita sejarah karangan pujangga. Kebesaran
inilah yang ditangkap oleh inisiator program ini Kapal Pemuda Nusantara betul
Nusantara yang berarti Nusa di antara pulau-pulau diantara selat yang menghubungkan
satu dengan lainnya. Pulau terdepan bukan pulau terluar.
Komentar
Posting Komentar