Catatan akhir tahun 2014



Catatan akhir tahun 2014
What happen during this year? How many new friends you meet? How long is your travel? And many other questions are floating around. Hahaha
Bikin catatan akhir tahun seperti jamak dilakukan dulu, untuk mengukur, dan meraih target-target yang disasar tahun depan. Gara-gara ada urusan untuk membuat buku kisah perjalanan Sail, tangan ini mulai tak henti-hentinya mengetuk tut keyboard computer.
Sepanjang tahun ini banyak catatan yang tertulis, dari kisah perjalanan Sail Raja Ampat, kunjungan ke Istana Tapak Siring untuk yang ketiga kalinya, bertemu banyak teman-teman baru, pengalaman seru sepanjang tahun yang kesemuanya itu patut disyukuri. Thanks God for every blessing.

Sail Raja Ampat
Waktu itu bertepatan dengan moment hari raya Idul Fitri, hanya berselang beberapa hari kegiatan sudah dilaksanakan. Tentu panitia dan pendamping harus sudah berkumpul di Ibukota untuk program tersebut. Teman-teman dari seluruh penjuru nusantara harus datang ke Jakarta untuk pembekalan dan mempersiapkan logistik peserta sail. Tebayangkan betapa susahnya mendapat tiket ke Jakarta waktu itu, harus bersaing dengan penumpang arus balik. Kalo dapat pasti harganya berlipat dari harga tiket dihari biasa. Saya jauh lebih beruntung dibanding teman dari Aceh dan Papua, tim pendamping Sail kali ini lengkap dari ujung Timur sampai Barat negeri. Alangkah besarnya pengorbanan mereka, ada Fadliana dari Aceh, Adri Siahaya dari Papua, Gadri Attamimi dari Maluku dan Ni Wayan Yuliani dari Bali yang merasakan perjuangan hebat menuju Ibukota. Fadliana bahkan harus transit ke Malaysia dulu sebelum bisa terbang ke Jakarta. Ni Wayan Yuliani harus berjuang dari Bali ke Surabaya untuk dapat tiket pesawat yang akhirnya tak terkejar karena bus yang ia tumpangi dari Denpasar terjebak macet panjang di pelabuah Gilimanuk. Akhirnya ia naik bis itu sampai ke Jakarta. Tak terbayang capek yang dihadapi. Arus balik pulau Jawa semua jalan menuju Jakarta pasti macet, entah lewat Pantura atau jalur selatan. Bagaimana dengan saya? H+3 Idul Firtri mendapatkan tiket bis, itu pun berkat kerja keras mbak Tanta yang harus masuk kerja di Bogor maka saya pun berdua dengan mbak Tanta mengarungi panjangnya jalan pantura. Saya dan mbak Tanta berangkat pada Sabtu Malam dari Semarang, dan sampai di Jakarta senin dinihari. Parah sekali macetnya, ingat peristiwa ambruknya Jembatan Comal? Nah saat itu lah perjalanan saya ke Jakarta bersama mbak Tanta. Selama perjalan didalam bus, hanya bisa tidur kami, dan saat terbangun alangkah terkejutnya mengetahui fakta bahwa bis yang kami tumpangi hanya berpindah puluhan meter saja. Baliho besar di pinggir jalan itu menjadi saksinya. Saat sebelum tidur saya melihat baliho besar itu ada jauh di depan bis yang kami tumpangi, dan saat terbangu. Ya baliho itu masih ada didepan bus namun jaraknya tak sejauh ketika sebelum tidur tadi. Lihat ke jam tangan, sudah hampir dua jam tertidur dan hanya bergerak puluhan meter saja. Macet oh macet
Senin dinihari kami sampai di pool bis yang kami tumpangi di daerah kebayoran baru. Dari sana kami naik taxi menuju terminal lebak bulus untuk berganti naik bus Agra Mas jurusan ke Bogor. Pukul 4 pagi kami sudah ada di depan terminal, menunggu bis ke Bogor yang pertama melintas pagi itu, rasa capek masih melekat di sendi-sendi tulang waktu itu. Perjalanan Semarang-Jakarta telah menguras habis tenaga kami. Kasihan mbak Tanta yang harus dilanjutkan bekerja pada hari itu juga. Maka saya antar sampai bogor lah mbak Tanta. Dari Bogor saya harus melanjutkan perjalanan ke Tanjung Priuk, waktu itu masih pagi, pukul 7 atau 8 lah. Bis dari terminal baranang siang jurusan tanjung priuk telah datang dan langsung penuh diserbu penumpang. Tak dapat tempat duduk, saya putuskan duduk di tangga dekat pintu belakang. Duduk bersama tas ransel hitam yang saya dapat dari Sail Komodo satu tahun sebelumnya saya pun tertidur pulas di bawah anak tangga itu. Ohya pintu tertutup rapat jadi aman kok teman-teman. Hehehe
Tepukan orang-orang yang hendak turun dari bis membangunkan tidur ku pagi itu. Terkaget dan segera bangun untuk memberikan mereka jalan turun. Posisi saya memang menggangg lalulintas naik turun penumpang bis, akhirnya saya bangun dan mendapat tempat duduk tidak jauh dari pintu belakang. Belum sampai tenggah hari kaki saya sudah menginjak terminal Tanjung Priuk lagi. Berjalanlah saya menuju hotel Ende tempat panitia dan penamping akan mendapatkan pembekalan sebelum berlayar.
Sekali lagi pertama, belum ada satupun baik panitia ataupun pendamping yang cek in di hotel Ende. Tiga kali ikut sail, tiga kali pula datang pertama. Sepertinya ini bukan kebetulan hehe..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi 100 Hari

Highlight Weding at Resinda Hotel Karawag

Cari KPN ya?