KISAH PERJALANAN KPN
KISAH
PERJALANAN KPN
Tiga Kali
Berlayar
Ya tiga kali sudah saya berlayar bersama
Kemenpora, tahun 2011 sebagai peserta Sail Belitong. Dua tahun kemudian Sail
Komodo sebagai pendamping dan Sail Raja Ampat 2014 menjadi kordinator
pendamping. Banyak kisah perjalanan tentunya, satu Sail saja membawa ribuan
cerita. Apalagi tiga Sail berbeda, cerita akan keindahan alam Indonesia, cerita
tentang persaudaraan pemuda nusantara, berbagi pengalaman sebagai peserta dan
pendamping dan tentu saja tantangan sebagai kordinator pendamping punya cerita
tersendiri. Akh butuh memori lebih besar lagi untuk menampung semua itu kawan.
Salam kenal saya Windhu Kurnia Daniyala, lahir
dan tumbuh di kota Semarang. Kebetulan Tuhan kasih baik karena berkat kuasaNya
saya sampai tiga kali mengikuti pelayaran. Banyak sekali cerita pengalaman
berharga yang didapat, kali ini ijinkan saya sedikit berbagi kisah pelayaran
semoga dapat bermanfaat. Ada hutang moral, atau apalah namanya, mengingat semua
fasilitas yang Negara berikan selama mengikuti Sail. Saya sadar tidak semua
pemuda negeri ini berkesempatan melihat betapa indah negerinya, naik kapal
perang dan hidup didalamnya, hingga mengarungi lautan Indonesia. Pertama saya kenal
program Kapal Pemuda Nusantara (KPN) ditahun 2011, tepatnya di bulan September.
Saat itulah awal kecintaan terhadap dunia bahari bersemi, tumbuh dan sekarang
menjadi candu. Sebagai peserta mewakili propinsi Jawa Tengah bersama seorang
rekan bernama Nila Wulandari Maharani dan perwakilan pemuda senusantara,
berangkatlah kami berlayar. Sail Belitong 2011 itulah nama resmi kegiatannya.
Kenapa
bisa mewakili Jawa Tengah ditahun 2011? Bagaimana tahu informasi program ini?
Semua jawaban berawal dari keaktifan mengikuti kegiatan kepemudaan yang diadakan
Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga Kota Semarang. Kebetulan saya tergabung dalam
kepengurusan daerah organisasi Purna Paskibraka Indonesia Kota Semarang,
bertugas di halaman Balaikota Semarang pada tahun 2004. Dari situlah informasi
mengenai program-program Kemenpora saya dapat. Atas rekomendasi dari Ibu Dra.
Siswaningsih akhirnya saya mengikuti seleksi sebagai perwakilan Kota Semarang
untuk program KPN. Dengan bekal wawasan bahari yang sangat minim waktu itu saya
bersyukur berhasil menyisihkan peserta lain dan menjadi yang terpilih.
Berangkatlah kami ke Jakarta dengan Kereta malam dari Stasiun Tawang Semarang
dengan tujuan stasiun Jatinegara.
Masih
Ingat betul dalam ingatan, bahwa rombongan kami adalah yang pertama sampai di
PP PON Cibubur, pukul 2 dinihari kereta sudah tiba di Jatinegara dan belum
sampai pukul 3 taxi yang mengantar kami sudah berada di dalam kompleks PP PON
Cibubur. Gelap, sepi, dingin, tidak ada ruang untuk beristirahat itulah kesan
pertama, beruntung bapak satpam berbaik hati mengijinkan kami menunggu di lobi
gedung pusat rehabilitasi atlet yang mengalami cedera. Akhirnya pagi tiba, hari
pertama di Jakarta, masih belum ada pergerakan sepertinya. Sampai tiba sebuah
taxi biru berhenti dimuka gedung dan menurunkan penumpang dengan tas-tas koper
besarnya, pikirku dalam hati pastilah itu salah satu bagian dari kami. Roma
berasal dari Padang, dialah yang pertama saya kenal, teman seangkatan. Seiring
terbitnya matahari, bergeliatlah pula aktivitas panitia menyambut peserta yang
mulai berdatangan dari seluruh penjuru nusantara.
Berkumpul dengan pemuda senusantara sungguh
kesempatan yang sangat langka, apalagi saya akan hidup selama kurang lebih satu
bulan dengan saudara-saudara baru itu diatas kapal. Tiga hari pelatihan dan
pembekalan di PP PON dirasa cukup untuk
mengenal saudara-saudara baru dan mengetahui gambaran kegiatan selama
pelayaran. Akhirnya hari yang di tunggu pun tiba, masuklah kami ke KOLINLAMIL
di Tanjung Priuk tempat KRI Makasar 590 menyandarkan diri. Takjub akan besarnya
kapal itu, tak terbayang seperti apa hidup didalamnya, bagaimana mandi, buang
air besar, tidur, makan, dan aktivitas yang lainnya. Penasaran bagaimana
menjalani hari-hari diatas kapal? Ikuti cerita selengkapnya.
First day on
board
Kakipun
dilangkahkan naik ke atas kapal, di dalam geladak paling bawah (Tank Deck) kami
kembali diberi pembekalan oleh anak buah kapal tentang Peraturan Dinas Dalam
biasa disingkat menjadi PDD yang berlaku didalam kapal. What do and don’t selama diatas kapal. Tercatatat aturan ini yang
paling sering diulang-ulang,”Jangan buang benda dalam bentuk apapun kedalam
kloset!!”
Fact: Sistem toilet didalam
kapal menggunakan teknologi flushing, dimana kotoran akan dihisap ke dalam
kloset dengan udara bertekanan tinggi, nah kalo ada benda selain kotoran kita
yang masuk kedalam kloset, dapat dipastikan system akan macet, satu macet yang
lain akan terkena imbasnya”
Sebenarnya
banyak sekali PDD yang berlaku, seperti jam makan yang ketat sesuai aturan,
dilarang merokok karena berbahaya rawan kebakaran dan lainnya yang intinya
untuk menjaga kebersihan dan kedisiplinan selama berlayar. Ingat kapal ini
merupakan kesatria, dibeli dengan uang rakyat, harus dijaga bersama.
KPN Helideck
Pasti saudara-saudara ku peserta Sail Belitong
bangga mengatakan bahwa kamilah yang pertama menyusun formasi KPN raksasa
diatas helideck hahahaha. Namun banyak cerita dibalik pembuatannya, sampai
akhirya bisa foto itu berkeliaran di dunia maya. Adalah Iqbal (Moh. Iqbal
As'adul Islam) Utusan KPN Jawa Barat yang menjadi fotografer kami, dialah yang
membidik gambar bersejarah itu. Kenapa bersejarah? Foto itu menjadi simbol pertanda
eksistensi organisasi KPN. Ada kebanggan tersendiri apabila melihat foto itu, waktu
itu kami hanya ber tujuh puluh dua orang karena setiap propinsi hanya
mengirimkan dua perwakilannya, ditambah utusan kemenpora dan universitas yang
ditunjuk kami berhasil menyusun formasi KPN itu, ya karena kamilah yang
mengawali itu, dan tahun berikutnya, 2012 dan 2013 peserta tidak ada foto macam
itu lagi. Baru tahun 2014 kembali ada barisan peserta berfoto KPN diatas kapal.
Komentar
Posting Komentar