Komodo-komodo



Komodo-komodo
Setelah merasakan enaknya menjadi peserta pelayaran yang tinggal ikut jadwal kegiatan meski jadwal berganti-ganti seiring ombak laut yang selalu mengikuti arah angin membawanya. Kini tiba giliran berganti posisi menjadi pendamping di Sail Komodo 2013. Ingat menjadi pendamping tidak mudah, ada tahapan proses seleksi yang harus dilalui. Saya pun gagal menjadi pendamping Sail Morotai 2012. Karena kegagalan itu sempat saya mengurungkan niat ikut mendaftar di 2013. Terimakasih untuk Rafika Saqina Putri saudara satu angkatan Sail 2011 dari Jawa Timur yang terus menelpon dan meyakinkan saya untuk sekedar coba saja daftar. Singkat cerita terpilihlah akhirnya menjadi pendamping Sail Komodo.
 Sejarah mungkin berulang, itulah yang saya rasakan pada awal perjalanan menapaki Sail Komodo 2013. Sama seperti ketika berangkat sebagai peserta dulu, kali ini pun saya datang terlalu awal, bahkan pertama datang ke KOLINLAMIL bukan hitungan jam lebih awal, tapi dua hari lebih awal. Wow bagaimana itu bisa terjadi? Begini awalnya, dinas pemuda dan olahraga propinsi Jawa Tengah menawari untuk berangkat bersama dengan lima perwakilan peserta dari Jateng naik travel yang telah dipesan. Saya pun mengiyakan ajakan tersebut, namun kejanggalan terjadi, pihak dinas berangkat lebih awal karena mereka berpedoman pada surat keputusan lama. Nah sebagai pendamping tentu saya juga mempunyai surat keputusan atas nama pribadi tentunya, yang isinya perihal penunjukan dan tanggal kedatangan peserta dan pendamping ke ibukota. Usaha untuk menjelaskanpun sia-sia, dengan pertimbangan ekonomis dan sekaliyan merapatkan diri dengan perwakilan Jateng berangkatlah saya naik travel tersebut bersama lima peserta dan dua pengantar dari dinas. 
Semalam berkendara dari Semarang menuju Jakarta, tibalah kami di Tanjung Priuk. Kapal belum sandar, bahkan petugas jaga di Kolinlamilpun tidak tahu kapan akan merapat. Pertanda buruk pikirku, dan benar saja rombongan saya terlalu awal sampai Jakarta. Seluruh peserta seharusnya mendapat akomodasi kementrian menggunakan transportasi udara menuju ke ibukota. Setelah berkordinasi dengan panitia pusat akhirnya, pak Adelio menginapkan kami tepat di depan hotel Ende. Sekali lagi datang paling awal, apakah di Sail Raja Ampat 2014 saya juga datang paling awal? Kita lihat saja nanti.
Karena datang pertama ke hotel, banyak teman-teman panitia dan penamping lain menanyakan alamat hotel tersebut pada saya. Dengan senang hati saya jemput beberapa teman yang memang belum pernah datang ke hotel tersebut. Adalah M. Syafi’i kawan seperjuangan di Sail Belitong yang menghubungi saya untuk dijemput di Terminal Bis Tanjung Priuk. Kita berkomunikasi lewat pesan singkat, dan alahkah terkejutnya saya ketika Syafi’i bilang dia naik bis dari Medan ke Jakarta. 3 hari sudah dia habiskan di dalam bis itu. Perjuangan yang luar biasa teman. Akhirnya janjian sudah kita di Terminal Tanjung Priuk pukul 20.00 wib dia bilang sekitar jam itu akan sampai terminal. Baiklah saya tunggu bersama peserta perwakilan Jateng sambil duduk di tepi jalan menunggu tiap bis yang lewat di depan kami berharap Syafi’i turun dan menghampiri kita berenam. Tigapuluh menit hingga satu jam sudah kita tunggu kedatanggannya, khawatir dengan keadaannya saya kirim pesan menanyakan posisinya. Kira-kira seperti ini jawaban dari Syafi’i, “Win jangan kau telpon atau sms lagi karena batere sudah low bet, nanti saya sampai di terminal, kamu tunggu saja.” Mendengar jawaban seperti itu saya putuskan untuk menunggu sementara peserta Jateng putri kembali ke hotel, kini tinggal saya dan satu peserta putra dari Jateng yang tunggu si Syafi’i. Dua jam telah berlalu, terminal yang tadinya riuh dengan suara kenalpot kendaraan dan teriakan orang-orang menjadi semakin sepi, malam semakin larut. Pukul 23.00 jumlah bis yang datang ke terminal semakin jarang, saya coba cek telepon ke nomer Syafi’I dan ternyata sudah tidak ada nada sambung. Sampai mana ini anak medan satu? Jangan-jangan dia ditelan rimba beton ibukota? Putus asa dan lelah menghampiri, kasihan itu satu peserta menemani saya tunggu Syafi’I, pasti karena tidak enak hati saja dia mau nimbrung berdua di terminal denganku hahaha. Windhu windhu! Teriakan khas orang Medan terdengar dari arah belakang, dan benar itu si anak Medan! Syafi’I telah datang tapi tidak dengan naik bis. Dia naik ojeg, entah dari mana dia naik ojeg. Dua tahun sudah tidak bertatap muka dengan Syafi’I, dia masih sama persis seperti waktu masih menjadi peserta dulu, badan gempal suara lantang teriak-teriak dan kali ini ditambah bau kecut keringat, asap kendaraan dan bau-bau aneh lainnya haha tiga hari di bus telah memberinya aroma yang khas! 
Esoknya giliran saya dan Syafi’I menjemput pendamping dari Jambi bernama Ahmad Mustang. Senior saya dari Sail Banda 2010, naik pesawat pagi dari Jambi ke Jakarta kemudian naik Damri Bandara menuju terminal bis Tanjung Priuk. Jauh lebih baik nasibnya dari Syafi’i pikirku. Suasana terminal pagi hari sungguh luar biasa ramai, saya dan Syafi’I sudah berada di Terminal dan tunggu abang Mustang ini datang, sms masuk di HP Syafi’i, “Abang makan di warung nasi padang terminal tanjung priuk, kamu kesini jemput abang.” Begitu kira-kira is isms nya. Bah warung padang yang mana ini? Tiap ada warung padang kami masuki, dan bodohnya saya dan Syafi’I kita berdua sama-sama belum tau wajah Ahmad Mustang, belum pernah jumpa kita. Maka sambil teleponan dengan Ahmad Mustang kita keluar masuk warung padang, dua warung sudah kita masuki dan negativ. Di warung ketiga barulah perjumpaan itu terjadi, sambil lahapnya makan pakai tangan dia bilang,”Tas abang di luar, kalian tunggu abang makan sekaliyan jaga itu tas!” hah macam mana ni orang sudah dijemput suruh-suruh tunggu dia makan pula. Sebal juga si, tapi dia senior dan mukanya yang sanggar itu bikin pucat. Selesai makan si abang keluar dan tanya seberapa jauh dari terminal menuju ke hotel? Jauh bang, jawabku. Tapi Syafi’I jawab dekat. Si abang pilih jalan tengah, dia naik ojeg ke hotel dengan tas kopernya, kita suruh kasih tau alamat itu hotel ke abang tukang ojeg. Lah percuma donk kita jemput dia? Kesan pertama yang berkesan.
 Akhirnya seluruh tim sudah cek in di hotel, pertemuan pertama dengan seluruh panitia dan pendamping Sail Komodo terjadi malam hari setelah makan malam. Beberapa dari mereka sudah saya kenal sebelumnya, beberapa wajah baru dari sail Morotai. Dengan cepat kita jadi akrab karena malam itu kita harus menyiapkan logistik untuk peserta berupa tas ransel, topi dan baju peseta dan atribut lain milik peserta dan itu jumlahnya banyak. Malam itu kita habiskan dengan mengabdikan tenaga untuk para peserta sail.
Lain dengan sail Belitong dulu dimana peserta dikumpulkan terlebih dulu di PP PON Cibubur untuk diadakan pembekalan sebelum masuk kapal, kini peserta langsung berkumpul di JICC (Jakarta International Container Center) tempat kapal bersandar. Tugas pertama sebagai pendamping Sail Komodo pun dimulai disini. Registrasi peserta dan mendistribusikan perlengkapan mereka menjadi tugas pertama. Menjadi pendamping ternyata lebih berat daripada menjadi peserta, meskipun sudah pernah onboard dalam KRI Makasar 590 ditahun 2011 lalu, masih saja kagum akan besar dan gagahnya kapal ini saat menginjakan kaki pertama kali diatasnya.
G-07 adalah kamar kami para pendamping dan panitia putra, disana banyak sekali cerita-cerita seru. Setiap malam setelah apel malam, kami adakan evaluasi dengan teman-teman semua sebelum beranjak tidur. Ada ritual yang tidak bisa terlewatkan, menyeduh minuman berenergi yang jos itu dalam sebotol besar air mineral. Kami sebut itu dengan minuman nusantara. Pelopor kegiatan ini adalah pendamping putra paling senior siapa lagi kalo bukan Ahmad Mustang. Dialah motor acara, penghidup pesta, penggerak ide-ide jail dan tokoh sentral dari segala kegaduhan yang kami buat dikamar. Sebagai gambaran, ruangan G-07 berkapasitas 40 orang dan hanya dihuni oleh pendamping putra dan panitia putra saja, masih ada beberapa tempat tidur kosong tak berpenghuni, jadi cukup lapang sekali didalam sana.
Ahmad Sulbar, begitu biasa dia dipanggil. Adalah teman sesama pendamping berasal dari Mamuju Sulawesi Barat. Karena dia paling muda usia, jadilah dia obyek jail selama berlayar. Beberapa kejahilan itu masih melekat sampai sekarang, bahkan saya sering tertawa sendiri mengingatnya. Salah satunya berjudul makan malam. Berawal dari kebiasan Ahmad ini curi-curi waktu untuk tidur siang disela-sela waktu peserta menerima materi di siang hari, kami pendamping lain kompak untuk menjahili si Ahmad. Tidur nyenyak sekali dia, ditutup tirai kamarya, pakai headset pula di telingga. Ide kreatif muncul dari bang Mustang, kita ganti jarum jam di tangan ahmad jadi jam 7, kemudian kita bangunkan dia. Pelan-pelan sekali kita putar itu jam tangan, semua pendamping kompak pegang sendok makan masing berlagak sudah kenyang sehabis makan. Eksekusi pun dilakukan,”Ahmad bangun kau Ahmad, tidur kau selalu memimpin!” ucap Mustang. Malas sekali Ahmad itu bangun sampai kami yang lain meyakinkan Ahmad untuk segera makan malam, padahal waktu itu masih jam 2 siang. Ingat di kamar kami tidak ada jendela sama sekali, tidak ada cahaya matahari yang masuk. Pendamping yang lain kompak dengan atribut selain sendok makan, ada yang seolah habis mandi dari kamar mandi pakai handuk dengan kepala basah, ada yang pakai baju koko seolah habis ibadah sholat magrib, yang lain pegang sendok dan duduk lesehan dibawah sela-sela barak bunk bed bertingkat yang ada dikamar. “Ahmad makan Ahmad jangan sampai kau tak makan malam, cepat sudah jam tujuh ini” teriak bang Mustang di telinga Ahmad. Akhirnya dia turun dari tempat tidurnya dengan mata yang masih mengantuk. Tengak-tengok lah dia ke sekeliling, dilihat pula jam tangannya. “Cepat ambil sendok kau dan pergi makan!” kami semua kompak menyuruh Ahmad ke dapur. Maka berjalanlah Ahamad kedapur menyusuri lorong geladak G. entah apa yang akan dia katakan pada petugas didapur, omelan macan apa pula yang akan dia terima dari bapak-bapak juru masak di dapur. Tak terbayang reaksi Ahmad seperti apa, tertawa kami semua begitu ahmad melangkahkan kakinya masuk ke ruang dapur. Mungkin seperti ini pembicaraan Ahmad dengan bapak-bapak yang ada didapur. “Pak Minta makan pak.” Sambil pegang sendok dan mata sayu. Entah jawaban apa yang bapak-bapak petugas dapur itu berikan, ohya bapak-bapak itu adalah anggota TNI Angkatan Laut, jadi pasti tegas menjawabnya. Pendamping yang lain dikamar menunggu kedatangan Ahmad, kita semua sudah siapkan tawa terbaik untuk menyambut Ahmad. Saat Ahmad membuka pintu kamar saja, pecah sudah tawa kami semua. Dasar Ahmad
Belum selesai dengan insiden makan malam buatan itu, kali ini Ahmad sendirilah yang menjadi pelaku kekonyolan. Cerita bermula ketika jam makan tiba, saya sendiri lupa apakah itu jam makan siang atau malam. Seperti biasa, kami pendamping makan di ruang makan geladak G beserta peserta putri. Kebetulan saya makan bersama Ahmad, setelah antre ambil nasi dan lauk Ahmad segera mencari posisi strategis. Cari meja kosong yang nyaman, supaya bisa cakap-cakap dengan peserta putri sambil menikmati santap makan. Ahmad sudah dapat tempat duluan, dipanggillah saya oleh Ahmad untuk makan satu meja dengannya. Sungguh luar biasa pemuda satu ini, pintar sekali pilih tempat makan, depan kami adalah nona-nona cantik dari Manado. Ahmad ini pandai bersilat lidah, maka diapun makan sambil bercakap-cakap dengan nona-nona tadi. Tak diliatlah apa yang masuk mulutnya, asal ambil dari ompreng dan suap ke mulut. Suatu ketika terdiam dia sejenak sambil toleh kiri kea rah saya. Ada apa pikirku? Ahmad yang dari tadi asyik merayu dua peserta ini jadi terlihat tidak bersemangat dan pucat. Mungkin karena gombalan dia tidak mendapat respon yang hangat makanya dia malas berbicara lagi pikirku waktu itu. Makan makan makan selesai duluan nona-nona cantik itu, mereka berdua mohon ijin mendahului pergi. Baru disana Ahmad cerita apa yang sesungguhnya terjadi saat dia makan tadi. “Bang kau tau nama rempah-rempah bumbu masakan ini apa namanya?” Tanya Ahmad padaku. “Ah mana aku tau Mad! Kenapa kau tanya rempah-rempah pula.” Dengan polosnya Ahmad menjawab, “Aku tadi telan satu rempah besar tadi bang.” Hah rempah apa yang dia makan? Penasaran, sayapun cari tau ditempat sayur meja antrean, aduk-aduk itu baskom besar isi ayam pakai kuah kuning itu. Dan akhirnya ketemu juga rempah yang Ahmad tanyakan tadi. Lengkuas, dia telah makan lengkuas, utuh, besar dikunyahnya, kemudian telan bulat-bulat. Pantas saja mukanya berubah jadi jelek sekali didepan nona-nona tadi. Rupanya malu si Ahmad ini untuk memuntahkan isi mulutnya di depan peserta-peserta tadi. Hahaha Ahmad jangan kau ulangi lagi perbuatan mu itu pemuda!
Sepertinya enak sekali tugas pendamping ini? Makan sama-sama peserta, bikin gaduh dikamar sendiri, curi-curi tidur siang disela-sela kegiatan pula. Wah ini karena sudut pandang, banyak juga pahit yang dialami pendamping. Saya pun mengalami pahitnya menjadi pendamping kegiatan, berselisih paham dengan peserta putra, sampai adu mulut dengan beberapa peserta juga saya alami. Sail komodo ini benar-benar memberikan pelajaran berharga bagi saya pribadi dalam hal mengatur emosi. Manfaatnya saya dapat ketika harus menjadi kordinator pendamping Sail Raja Ampat 2014, banyak keputusan-keputusan sulit yang harus diambil dan membutuhkan pikiran tenang, bukan hanyut dalam emosi. Tuhan mungkin telah atur itu semua dengan baik. Saat kita dihadapkan dengan problematika yang pelik, seperti dalam pemilihan kata ini, diksinya begitu tajam. Problematika yang pelik hahaha.. saat berhasil melalui itu, niscaya kita akan naik kelas, tambah pengalaman.
Bapak-Bapak Komodo
Ada dua orang bapak Komodo yang berjasa selama saya mengikuti pelayaran kali ini. Pertama pak Dansatgas, dan kedua adalah pak Pailul Aba. Beliau berdua memberi banyak arti dalam pelayaran kali ini. Sama-sama belum pernah bersua sebelumnya, Sail ini merupakan interaksi pertama saya dengan beliau berdua. Interaksi dengan keduanya melahirkan sinergi cara berpikir yang berguna bagi diri saya pribadi. Pak Yus mengajarkan banyak hal, disiplin waktu, otak itu kecil jangan diisi untuk hal-hal yang tidak penting, jangan suka mengkasihani diri kamu sendiri, kenali cuaca medan musuh, pemimpin itu memberi contoh, bangun link system,


Titip Pesan
            Pesan untuk panitia dan pendamping tahun 2015, jangan lupa peserta diberi nomer registrasi perserta. Dan pastikan mereka ingat nomer yang melekat pada mereka selama pelayaran, hal ini akan sangat membantu dalam pembagian-pembagian grup yang bersifat lintas kelompok. Seperti saat akan naik LCU, transportasi ketika pesiar. System penomerannya menggunakan daftar hadir yang setiap hari akan mereka tanda tangani sebagai bukti kehadiran, ambil contoh kelompok 1 terdiri dari 13 orang, maka nomer registrasinya adalah satu-satu, satu-dua, satu-tiga hingga satu-tigabelas. Kelompok 2 terdiri dari 11 orang, pun demikian, dua-satu, dua-dua, dua-sepuluh, dua-sebelas. Hal ini akan mempermudah tugas pendamping dalam pembagian bus, LCU dan lain-lain, control pendamping akan lebih mudah.
            Akan susah bagi pendamping di hari-hari awal untuk menghafal nama anggotanya, untuk itu saya saran labeling perserta dengan nama masing-masing. Cukup temple stiker label harga warna putih ukuran besar di baju yang mereka kenakan. Lebih baik saat registrasi awal sertakan 1 lembar besar stiker ini kepada peserta dan jelaskan pada mereka untuk menuliskan nama panggilan mereka dan menempelkannya. Kita sebagai panitia pendamping lebih cepat hafal, begitu juga dengan para peserta. Akan lebih cepat akrab, because what? The best language in this world is your own name.
Pendamping yang mendampingi peserta selama dikapal, hendaknya tidak lepas kominikasi begitu saja dengan anggota kelompoknya. Apabila sudah terpilih pendamping untuk 2015, hendaknya mereka berkominmen untuk tetap membina komunikasi paska program selesai. Hal ini memudahkan KAKPN untuk membangun suatu link system  yang berguna untuk penyebaran informasi, promosi event, pengawasan dan pembimbingan kaderisasi organisasi. Jadi tugas pendamping tidak putus atau selesai setelah kapal kembali ke Tanjung Priuk, justru setelah itu pendamping dituntut untuk kreatif menjalin ikatan dengan anggota kelompoknya.
Satu lagi, maaf banyak pesan. Yaa secara 3 kali ikut Sail hehe. Stage Manager. Apa itu Stage Manager? Sama seperti pada pementasan pada umumnya, tugasnya adalah memastikan malam pentas seni kesenian daerah (provinsi) yang tampil selama diatas kapal berjalan dengan lancer. Dia bukan seorang MC (Master of Ceremony) yang membawakan rangkaian acara, namun dia berada di belakang panggung, bertanggung jawab menyiapkan penampil dan berkordinasi dengan petugas diluar (helly deck) agar acara berjalan lancar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi 100 Hari

Highlight Weding at Resinda Hotel Karawag

Cari KPN ya?