Welcoming Ramadhan
Menyambut Ramadhan.
Tahun Mahesi 2015 Alhamdulillah masih berjumpa dengan bulan suci penuh rahmat bulan Ramadhan. Namun dibalik kebagian tersebut tersembunyi rapat sebuah kesedihan, ya sedih atas kehilangan orang yang sangat dicinta.
Lebaran tahun ini akan tanpa kehadiran pak dhe Hud, beliau telah berpulang pada awal tahun ini. Januari tanggal 26, senin malam pak dhe meninggalkan kami di ICU RSUD Sidoarjo. Sudah jadi tradisi beliau untuk nyekar ke makam eyang di Semarang tiap Idul Fitri, kini kami yang akan nyekar ke makam beliau di Sidoarjo. Beliau yang berperawakan tinggi besar dan pembawaan yang tenang akan selalu hidup dihati ini, Kenangan terakhir bersama beliau sangat berkesan, waktu itu saya sedang dalam perjalanan naik bus dari Denpasar ke Surabaya. Sampai di terminal Bungur sudah sangat larut waktu itu, pak dhe khawatir dan menjemput saya di terminal. Naik Vespa biru itu kami memecah dinginnya malam Surabaya bersama-sama. Sembah nuwun pakdhe!
Ternyata bukan pak dhe saja yang telah lebih dulu menghadapNya, mamah Titut pun telah berpulang pada awal bulan Mei 2015. Empat Mei sore hari setelah magrib, kebetulan hari Senin sama dengan hari meninggalnya pakdhe, mamah menghembuskan nafas terakhirnya. Sungguh mendadak kepergian mamah Titut, berbeda dengan pakdhe yang harus berjuang melawan sakit selama beberapa minggu di rumah sakit. Mamah berpulang tanpa ada sakit yang beliau derita, mendadak cepat dan mengejutkan semua orang yang mengasihinya. Memang belum lama saya mengenal mamah, baru Agustus 2013 pertama kali saya menjabat tangan beliau yang begitu halus, namun pertemuan pertama itu sungguh berarti. Hari-hari setelah itu selalu dihiasi dengan senyum manis mamah. Sudah seperti ibu sendiri, beliau sangat berarti. Beliau telah menyentuh hati setiap yang mengenalnya, begitu tulus perhatian dan kasih sayangnya hingga setiap teman yang pernah saya ajak bertemu mamah pasti akan jatuh hati pada mamah Titut. Jatuh hati dalam arti yang berbeda tentunya hehehe
Saat mendengar berita duka itu untuk pertama kalinya, posisi saya sedang dalam perjalanan pulang menuju Semarang dengan bus malam berangkat dari Karawang pukul 18.00 wib. Sengaja hp saya matikan karena batere sudah hampir habis waktu itu,
Hari Selasa dinihari itu benar2 menjadi hari tersedih selama saya hidup, betapa tidak melihat sosok mamah yang biasanya hangat dan ramai dengan senyum nya telah tenang terbaring dengan balutan kain batik, di samping beliau ada jeje dan danang yang sedang tertidur. Hancur hati ini melihat semua itu kala itu. Namun dalam perjalan pulang saya telah berjanji untuk tidak menetas air mata di depan Mita dan semua keluarga Nakula, saya harus menguatkan Mita walau sendiri pun sedih. Melalui tulisan ini lah saya bisa melampiaskan air mata yang tertahan waktu itu, sendirian saya tulis untuk mengenang mamah, agar kelak anak2 ku dapat membacanya dan mengenal sosok eyang putrinya yang begitu saya cintai.
Kepergian mamah yang benar2 mendadak memberi banyak pelajaran berharga pada saya pribadi, bahwa maut adalah rahasiaNya, kapan pun waktunya itu adalah hak prerogatifNya . Semenjak mamah pergi, saya lebih mendengar kata2 ibuk, hubungan saya dengan ibuk yang biasanya dihiasi ketegangan dan selisih pendapat berujung saling diam pun kini hilang, kepergian beliau benar2 membuat suasana rumah mijen menjadi lebih damai.
Belum lagi melihat banyaknya teman2 mita yang datang teman dan sahabat saya yang pernah saya ajak ke rumah nakula pun mengatakan hal yang sama, mamah orang baik.
Istirahat yang tenang disisiNya mah, doa kami selalu menyertai.
Ohya terimakasih untuk kue ulangtahun nya mah, mana ada coba calon ibu mertua yang mau bikin sendiri kue ulangtahun hanya untuk seorang pemuda seperti saya, Sembah Nuwun mamah.
Komentar
Posting Komentar