Romantisnya Tuhan
Tuhan itu Romantis
Romantis habis malah, menjalankan
ibadah di tengah laut diatas kapal yang sedang melaju melawan ombak tentu bukan
perkara mudah. Menahan diri supaya tetap dapat berdiri tegak saat kapal oleng
terkena hempasan ombak. Arah kiblat yang selalu berubah-ubah tiap kali kita
sholat berjamaah, kadang menghadap lambung kanan kapal, sholat berikutnya bisa
jadi menghadap lambung kiri tau malah lurus menghadap buritan kapal, itu semua
tergantung posisi kapal dengan arah kiblat saat kapal sedang berlayar.
Tidak sulit menentukan arah
kiblat saat kita hendak sholat berjamaah, dari tempat kita akan sholat yaitu di
helideck, kita tinggal telepon saja petugas yang ada di anjungan kapal.
Informasi arah kiblat akan diberitahukan melalui pengeras suara, karena di
anjungan terdapat radar-radar canggih milik TNI AL kita, jadi tidak perlu
khawatir bakal tersesat saat berada di tengah laut sana. Ohya kenapa di umumkan
lewat pengeras suara? Ya tentu biar semua bisa mendengar dan mengetahu
informasi arah kiblat. Kan pada saat sholat berjamaah dilaksanakan, pasti ada
petugas yang masih sibuk berjaga supaya kapal tetap beroprasi kan? Nah bagi
mereka informasi arah kiblat ini menjadi sanggat penting, paling tidak mereka
tidak harus sering-sering menelpon ke anjungan untuk menanyakan arah kiblat
yang benar, Ditambah lagi harus menahan
perut yang rasanya seperti di obok-obok, sungguh sensasi melaksanankan sholat
yang tiada duanya.
Eits tunggu dulu, namanya
kesusahan pasti ada kemudahan juga yang Tuhan berikan, bagi umat muslim yang
hendak melaksanakan sholat di atas kapal. Kemudahan itu adalah dengan menjamak
sholat dhuhur dengan ashar dan menjamak kembali sholat mabrib dengan isya’.
Lantas dimana letak romantisnya?
Bukankah romantis identik dengan bunga? Puisi khas para pujangga atau suasana
makan malam pakai lilin alias candlelight
dinner? Jangan-jangan Tuhan jadi romantis saat kita dihadapkan pada
kesulitan-kesulitan saat hendak menunaikan kewajiban sholat lima waktu diatas
kapal yang berlayar? Cerita tadi sungguh tidak romantis!!
Kalau saya bilang selalu ada
pemandangan matahari terbit setelah selesai melaksanan sholat subuh itu masuk
definisi romantis bukan? Setiap selesai mengucap salam dalam sholat subuh,
cahaya kemerah-merah an muncul dari ufuk timur bagaimana? Lantas perlahan-lahan
sang surya muncul dari garis horizon membawa telor mata sapi matang yang bulat sempurna
kuning kemerahan dengan hanggatnya menyapa para jamaah yang sengaja tidak kembali
ke kamar hanya untuk menunggu indahnya fajar terbit.
![]() |
| KRI Surabaya 591 |
Pergantian hari dari malam
menuju pagi yang cerah dikelilingi lautan Indonesia yang begitu lembut
mengalunkan ombaknya di pagi hari. Perlahan tanpa disadari gelapnya malam telah
berganti dengan cerahnya sang fajar. Dingin nya angin berganti dengan hangat
matahari menyapa setiap pagi adalah hal paling romantis yang saya rasakan
selama ikut pelayaran ini. Moment yang sesaat namun penuh arti, moment dimana
banyak peserta pelayaran mengabadikan dirinya bersama sang fajar, saling
menyapa dan mengucapkan salam, "selamat pagi". Disaat itu lah optimisme untuk
menantang hari dimulai, semangat dari sang surya yang siap membakar kita
disiang hari, menjadikan kulit semakin gelap dan keringat bercucuran. Dahaga di
tenggorokan pada siang hari yang panas, semua dimulai dengan kelembutan pagi.
Pagi diatas kapal yang romantis. Terimakasih Tuhan, Kau maha romantis!!
Biarlah saya dibilang lebay atau
alay, namun bagi mereka yang merasakan sensasi yang sama tentu ingin mengulang
kembali saat saat matahari terbit itu. Tidak cukup sampai disini saja
keromantisanNya. Kali ini saya akan ceritakan yang sedikit rahasia, yang tidak
banyak diketahui orang banyak selama saya ikut pelayaran. Ada hal romantis lain
yang tidak banyak dinikmati oleh peserta pelayaran yang lain. Hal itu adalah
menghabiskan malam di geladak paling atas atau di geladak Ende kita
menyebutnya. Adalah lantai paling atas dari kapal, tempat dimana anjungan kapal
berada. Kebisaan ini pertama kali saya alami saat mengikuti sail belitong 2011,
dimana waktu itu saya masih menjadi peserta dan baru pertama kali ikut
berlayar.
Bersama dengan dua orang sahabat saya yang saya panggil dengan
sebutan Mul, begitu juga dengan mereka berdua yang memanggil saya dengan
sebutan Mul pula haha jadi ada tiga Mul waktu itu. Kami bertiga selalu mencari
kesempatan untuk dapat naik digeladak paling atas saat malam hari. Saat dimana
peserta seharusnya beristirahat dikamarnya masing-masing, kami bertiga memilih
menghabiskan malam dengan secangkir besar minuman yang tagline iklannya ‘minum makanan bergizi’ sambil membawa kue samir
kering yang kami beli dikantin kapal sebelumnya.
Jangan berpuruk sangka bahwa kami
bertiga berpacaran diatas geladak kapal itu low. Secara kami kan sejenis, masak
jeruk minum jeruk? Kan tadi diatas sudah dibilang kalau kami minumnya makanan
bergizi hehe. Lantas apa yang kami lakukan diatas sana? Menikmati ciptaan Tuhan
yang ada diatas langit malam. Gemerlap bintang-bintang dari atas laut sungguh
berbeda dengan apa yang biasa kami lihat sehari-hari didarat. Disana sepertinya
tuhan kasih lebih banyak bintang, lebih terang serta lebih dekat rasanya. Tanpa
ada halangan antara kami bertiga dengan bintang-bintang itu. Bertaburan
memenuhi luasnya angkasa, cahaya bintang malam hari diatas laut itu adalah
bukti kalau tuhan itu romantis habis. Kadang kami ditegur oleh petugas jaga
anjungan yang sengaja keluar untuk merokok atau sengaja lewat dan mengetahui
kelakuan nakal kami. Saat petugas jaga mengetahui keberadaan kami diatas
geladak Ende pada waktu malam, biasanya kami akan menjelaskan maksud dan tujuan
kami berada diatas sana. Bukannya marah, malah banyak petugas yang akhirnya
geli saat mendengar kami saling panggil dengan sebutan Mul. Dengan logat jawa
yang kental kami bertiga bergantian memanggil Mul satu sama lain. Sehingga
bapak-bapak petugas jaga itu lantas tertawa melihat polah dan kelakuan kami.
Ada-ada saja kalian masak beriga namanya Mul semua!” begitulah kira-kira tawa
mereka waktu itu. Nanti akan saya ceritakan sejarah nama Mul itu berawal. Tapi
sampai sini percayakan kalau tuhan itu romantis habis.
Pelajaran paling berharga saat
mengikuti program KPN adalah kita sadar betapa kecilnya kita di hadapanNya.
Dari radar di ruang anjungan kita bisa mengetahui posisi kapal saat berlayar,
sebesar titik kecil yang perlahan bergerak di tengah laut. Saat malam melihat
bintang dari atas kapal itulah moment dimana saya merasa bagai debu. Dibanding
dengan alam raya ciptaanNya.
"Allah lah
yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya
dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan
mudah-mudahan kamu bersyukur." (Q.S Surat Al Jatsiah 12)

Mul! Hehe, aku kok ga dijak? :(
BalasHapussecara sail raja ampat kemaren jarang tidur bang, mana bisa ajak-ajak haha
HapusNice story Mul. Harus diakui, membuka kembali foto2, mengingat kisah 4 tahun silam, bisa memperbaiki mood dan semangat. Keep writing!
BalasHapusiya Mul, kado ultah mu ini aja ya Mul!
BalasHapusSungguh luar biasa..keindahan yg gak akan pernah terulang lagi bersama orang-orang yang sama dan waktu yang sama lagi, dan aku salah satu orang yang menyaksikan cerita ini..love u full #3Mul
BalasHapusmantabs
BalasHapusbagus
BalasHapus